Ighfirli Saputra, S.Hum.
Mahasiswa Program Studi Magister Bahasa dan Sastra Arab UIN Sunan Kalijaga Yogyakarta – Ketua Bidang Pendampingan Akademik Komunitas Lisaniya Adabiya.
Kontak: saputraighfirli8@gmail.com – ighfirlisaputra@lisaniyaadabiya.id
Unzur Maa Qaala wa Unzur Maa Qaala
Sekiranya, kalimat di atas lebih cocok menggambarkan ketertarikan saya ketika menyaksikan media sosial yang akhir-akhir ini diramaikan dengan kehadiran seorang pemuka ruhani, yang mendaku dirinya paham dan bisa berbicara menggunakan bahasa Suryani, pun dia juga menyatakan telah mengarang beberapa kitab berbahasa Suryani. Sudah barang tentu pernyataan-pernyataan demikian mengundang pelbagai tanya dalam benak saya, hingga partikel “Maa Maushuul” pun saya takrir dua kali hingga partikel tersebut benar-benar menjadi taqrir tanpa memandang partikel “Man Maushuul” yang biasanya ditaruh pada partikel “Maa Maushul” kedua, atau sebelumnya. Untuk memperkuat afirmasi, dia juga memperagakan berbicara menggunakan bahasa suryani secara langsung di hadapan para jemaah untuk memperkuat bukti pengakuannya itu. Hal demikian bisa kita saksikan dari potongan video yang telah tersebar.
Tentu bagi beberapa istilah Suryani akan terasa asing. Terlebih bila mendengarkan ujaran bahasa Suryani dari Pemuka tersebut yang secara artikulatif terkesan tidak familiar. Istilah-istilah yang diucapkan pun hanya itu-itu saja yang tak terlepas dari kata “maqoli inna” dan “sidi”. Sehingga wajar saja, para pelaku media sosial memberikan ekspresi “kerut kening” lalu dikreasikan dalam konten video mereka yang mengarah pada arena sinisme untuk merespon pengakuan orang tersebut, lalu disebarkan hanya untuk memperolok pengakuannya. Tentu hal demikian teramat riskan bila dengan faktor itu saja kita dengan mudahnya me”asfal”kan orang lain lantaran dia hanya mengucapkan “maqoli inna rohmatan” dalam mengekspresikan bahasa Suryani menurut pemahamannya. Padahal kita pun belum memiliki repertoar yang spesifik dan barangkali jauh dari kata cukup berkenaan dengan Suryani itu sendiri.
Meskipun demikian, berdasarkan kalimat pertama yang hadir dalam tulisan ini, akan lebih cantik permainan tulisan bila kita fokus pada apa yang dia bicarakan itu. Sehingga dari fokus tersebut pun mengundang beberapa persoalan: Apakah bahasa Suryani itu memang ada? Jika ada, bagaimana entitas bahasa Suryani dan asal-usul bahasa Suryani itu? Dan bagaimana pula teritori eksistensialnya? Sehingga, apakah nantinya akan memunculkan sinkronisasi, atau justru faktanya lebih mengarah pada ranah diferensial berkaitan dengan pernyataan Pemuka tersebut?
Bahasa Suryani
Bahasa Suryani merupakan bagian, cabang, atau lebih tepatnya turunan daripada rumpun bahasa Semit. Sekilas mengenai Semit, istilah Semit adalah istilah yang diberikan pada akhir abad ke-18 oleh August Ludwig von Schlozer dan Eichhorm, yang merupakan sejarawan dan ilmuwan berkebangsaan Jerman. Istilah Semit mereka gunakan untuk menggambarkan aliran perkembangan bahasa-bahasa yang tersebar di Timur Tengah yang didasarkan pada pencermatan keturunan-keturunan Nabi Nuh yaitu Sam, Ham, dan Yafits/Ariyah yang bersumber dari kitab Taurat berkenaan dengan kisah pasca banjir bandang (Ya’qub, 1982:108-109). Dan dari Sam itulah istilah Semit itu disematkan. Sebab keturunan-keturunan Sam; ‘Ilam, Asyur, Arpachshad, Lud, dan Aram, itu menyebar di kawasan Timur Tengah dan melahirkan bangsa, komoditi budaya, dan bahasa-bahasa yang beragam. Seperti Aramiyah, Fenisia, Ibrani, Arab, Yaman Klasik, Babilonia-Ayuriyah, Habasyah, dan penyebaran-penyebaran lain yang berasal dari bangsa-bangsa tersebut (Wafie, 2004:6-7). Termasuk bahasa Suryani sendiri berasal dari salah satu bangsa-bangsa yang telah disebutkan itu. Sehingga bila ingin ditegaskan, istilah Semit merupakan istilah yang diberikan pada bangsa Aramiyah, Fenisia, Ibrani, Arab, Yaman, Babilonia-Ayuriyah, yang merupakan entitas dari keturunan-keturunan Sam bin Nuh.
Dalam berbagai sumber, Bahasa Suryani merupakan jenis lahjah bahasa Aramiyyah. Meskipun memiliki penjelasan demikian, tak jarang pula ada yang menyamakan antara Suryani dan Aramiyah karena memiliki karakteristik yang tidak jauh berbeda, dan ada juga yang membedakan dua istilah tersebut dari aspek esensial meskipun tetap memiliki ikatan yang parsial. Sebab bila berkaca pada aspek genealogi terma, istilah Suryani merupakan istilah yang digunakan oleh orang-orang Aramiyah bagian timur (Turki dan Suriah) yang telah memeluk agama Nasrani. Orang-orang Aramiyah yang telah memeluk agama Nasrani tersebut tidak terima bila mereka disebut dengan orang-orang Aram. Karena dalam pandang teologis mereka, kata Aram adalah perumpamaan atau istilah yang dipakai bagi orang-orang yang menyembah patung dan berhala (Wolfson, 1929:146) dan maknanya sama dengan istilah kafir dalam perspektif kaum mereka (Abdul Tawab, 1977:27). Sehingga bisa dipahami bahwasannya Suryani artinya adalah orang-orang Aramiyah bagian Timur (Turki dan Suriah) yang telah memeluk agama Nasrani.
Adapun bahasa Suryani merupakan jenis lahjah bangsa Aramiyyah yang berpusat di kota Raha, (orang Suryani memberi nama dengan Orhai, orang Yunani menamai kota tersebut dengan Edessa, dan orang Arab menamai dengan Raha) (Wolfson, 1929:145). Dahulunya, kota Raha menjadi sentral berlangsungnya bahasa Suryani sejak abad pertama Masehi (Abdul Tawab, 1977:26), sehingga menjadikan bahasa Suryani lebih unggul dibandingkan dengan lahjah-lahjah lain. Begitupun pada abad ke-2 Masehi, bahasa Suryani telah digunakan di kota tersebut untuk perkembangan berbagai ilmu pengetahuan yang dipengaruhi oleh budaya dan pemikiran Yunani. Sehingga, bahasa Suryani lebih banyak digunakan dalam bidang sastra, terutama sastra-sastra nasrani, ilmu pengetahuan, pemikiran, dan filsafat. Begitupun dalam perkembangan bahasanya, juga mengalami persinggungan kosakata dan gaya bahasa Yunani (Wafie, 2004:49).
Lebih spesifik, bahasa Suryani digunakan dan diaplikasikan oleh para Rahib di Gereja yang ada di kota Raha, sejak berdirinya gereja tersebut hingga pada abad 5 Masehi. Hal itu bertujuan menjaga kemurnian bahasa Suryani, meskipun sedikit banyaknya telah dipengaruhi oleh bahasa Yunani. Namun sejak terjadinya perbedaan pendapat mengenai pandangan kenasranian di kalangan pemuka gereja berkenaan antara keutuhan ketuhanan atau adanya campur antara Tuhan dan manusia, maka gereja dan para rahib pun terpecah menjadi dua kelompok; golongan yang mengakui keutuhan Tuhan maka akan mengikuti mazhab Jacob Barados di Kekaisaran Yunani, dan golongan yang mengakui pendapat kedua akan mengikuti mazhab Nasturius di Kekaisaran Persia (Wafie, 2004: 49).
Menariknya, perpecahan tersebut tidak hanya sekedar terbentuknya dua kelompok saja, namun juga turut mempengaruhi rivalitas ketatabahasaan mereka. Sehingga dari hal demikian menghasilkan perbedaan karakteristik lahjah di dalam bahasa Suryani itu sendiri, baik dari segi fonetik, sintaksis, semantik, penulisan, dan artikulasi. Dari perpecahan tersebut, bahasa Suryani yang merupakan lahjah dari Aramiyyah pun terbagi lagi menjadi dua lahjah: Lahjah Ya’qubiyyah dan Lahjah Nasturiyyah. Meskipun terjadi demikian, orang-orang Suryani pada umumnya khawatir dan takut bila bahasa Suryani itu tidak mereka pertahankan. Masing-masing kelompok pun mempertahankan lahjah mereka, terutama dalam menterjemahkan kitab suci dan ayat-ayat perjanjian lama dan baru. Sehingga, dari tindakan tersebut melahirkan dua versi pembacaan kitab suci; kitab suci metode lahjah Nasturiyyah atau Syarqiyyah, dan kitab suci metode lahjah Ya’qubiyyah atau Gharbiyyah. Dan metode Lahjah Nasturiyyah merupakan metode yang paling dekat dengan bahasa sebelum terjadinya perbedaan (Wafie, 2004:49).
Karakteristik Bahasa Suryani
Karena saya belum memiliki repertoar yang familiar dengan bahasa Suryani, saya berusaha menghadirkan dalam tulisan ini berbagai karakteristik dan aksara-aksara bahasa Suryani dari keterbatasan sumber yang saya miliki, yang ditinjau dari aspek penulisan saja agar bisa menjadi bahan perkiraan dan pertimbangan.
Walaupun Bahasa Aramiyyah telah mengalami berbagai percabangan, akan tetapi terdapat beberapa karakteristik dan persamaan di antara semua cabang atau lahjah turunan bahasa Aramiyyah, termasuk di dalamnya bahasa Suryani. Jika di dalam bahasa arab untuk menandakan suatu kata yang statusnya ma’rifah/definit dengan alif lam (ال) pada awal kata, maka dalam bahasa Suryani atau Aramiyah akan menggunakan tanda sejenis alif (ا) yang posisinya dibubuhkan di akhir kata. Apabila di dalam bahasa arab menggunakan wawu dan nun (ون) sebagai penanda kata benda plural, maka pada bahasa Suryani arau Aramiyyah akan menggunakan huruf ya’ dan nun (ين) (Ya’qub, 1982: 112-113). Bentuk huruf ya’ dan nun yang dimaksud tidak sama persis dengan huruf aksara arab, dan tentu disesuaikan dengan aksara Suryani itu sendiri.
Berikut adalah bentuk aksara Suryani:


Distingsi dan Distansi
Sebetulnya bila dicermati lebih seksama dan membuka mata lebar-lebar, bahasa yang diperagakan oleh Pemuka Ruhani tersebut terasa lancar-lancar saja, penuh penghayatan, dan seakan dia sendiri paham betul dengan makna apa yang diucapkannya dan tidak nyeleneh. Tuturannya juga terkesan terstruktur, tanpa dikarang-karang, tanpa mengada-ngada, dan seolah tanpa adanya kekeliruan salah ucap, meskipun kata-kata yang terdengar terkesan hanya itu-itu saja. Seakan, elemen-elemen bahasa itu terkandung di setiap apa yang diucapkan. Bahkan bentuk aksaranya pun itu ada dan diperagakan. Suatu yang aneh dan berbeda itu misalkan ketika kita menyuruh seseorang yang tidak paham bahasa Arab untuk berbicara bahasa Arab secara spontan, maka yang akan terujar dari mulutnya lebih kurang hanyalah perpaduan huruf Syin, Ghain, ‘Ain, dan Lam, dan sebagainya, dan makna yang dibicarakannya itu pun hanya terkesan bercanda dan tidak berarti apa-apa.
Meskipun bahasa Suryani yang diklaim oleh Pemuka Ruhani tersebut dilafalkan penuh penghayatan dan memiliki aksara, namun aksara yang ditampilkan justru berbeda dengan aksara yang ditampilkam pada figura 1 dan 2 sebelumnya. Aksara yang diklaim sebagai aksara Suryani itu seperti gambar di bawah ini:

Figura 3. Sumber: screenshoot dari youtube/ponpesuniqnusantara
Figura 3 di atas merupakan aksara yang diklaim oleh Pemuka tersebut sebagai aksara Suryani. Jika dibandingkan dengan aksara Suryani pada figura 1 dan 2, maka terdapat beberapa perbedaan yang signifikan. Misalkan saja, jika bahasa atau aksara tersebut diklaim sebagai bahasa Suryani sebagaimana mestinya, yang notabene merupakan bahasa rumpun semitik, maka bahasa tersebut dipastikan memiliki harakat ataupun simbol harakat. Sebab karakteristik daripada bahasa rumpun semitik salah satunya adalah harakat, yang berfungsi sebagai pembentuk atau lebih tepatnya elemen aktualisasi jika suatu kata memiliki proses derivasi (Ya’qub, 1982:112). Namun, bila dicermati tulisan pada gambar, tidak ada keterangan yang jelas mengenai harakat atau simbol dari entitas harakat tersebut.
Tidak hanya itu. Bila kita cermati figura 3 di atas, semua huruf hijaiyyah yang terdapat dalam bahasa Arab, itu seakan terwakili oleh simbol-simbol yang diklaim sebagai aksara Suryani. Selain itu, jika dibandingkan dengan keterangan karakteristik bahasa Suryani pada figura 1 dan 2 yang notabene merupakan bahasa atau aksara Suryani yang lazim digunakan, terdapat beberapa perbedaan yang sangat mendasar dengan bahasa Arab. Sebab, pada aksara Suryani di figura 1, tidak semua huruf Arab itu berkesesuaian dengan aksara Suryani. Sebab beberapa huruf arab yang tidak terwakili oleh bahasa Suryani itu sendiri, yaitu:

Perbedaan demikian tentu perlu diklarifikasi dan diperjelas lebih lanjut, baik itu mengenai harakat dan simbol-simbol yang jelas sangat berbeda, baik dari bentuk khat ataupun kandungan huruf-hurufnya.
Dan perlu diketahui sekali bahwasannya huruf dhad (ض) sejatinya dan satu-satunya merupakan ciri khas khusus yang hanya dimiliki oleh bahasa Arab (Ya’qub al-Fairuz Abadi, 2005:295) yang memiliki tingkat kefasihan yang sangat sulit, dan tidak dimiliki oleh bahasa-bahasa lain (al-Qushi, 2016:32). Oleh sebab itu bahasa Arab itu sendiri dijuluki dengan Lughah ad-Dhad, karena karakter khusus yang hanya dimiliki oleh bahasa Arab. Sehingga tidak heran dan masuk akal bila pada figura 1 tidak terdapat simbol pembanding aksara Suryani dengan huruf dhad.
Pada akhirnya, setelah mencermati antara aksara Suryani yang lazim dengan aksara Suryani yang diklaim oleh Pemuka Ruhani tersebut, pun pantas mengundang rasa heran dan penasaran. Mengapa bahasa yang diklaim sebagai bahasa Suryani tersebut tidak berharakat, dan kenapa terdapat aksara huruf dhad pada klaim tersebut, yang sangat jelas sekali jika huruf dhad itu merupakan satu-satunya ciri khas yang hanya dimiliki bahasa Arab.
Berdasarkan keterangan lain, bahasa Suryani yang diklaim oleh Pemuka Spiritual tersebut diakui merupakan kalam Ilahi, kalam Malaikat, dan kalam-kalam para Nabi terdahulu, dan hanya bisa dilafalkan dan dipahami sendiri oleh Pemuka Ruhani dan Spiritual tersebut. Terlebih, adanya anggapan bahwa bahasa yang diklaim sebagai bahasa Suryani itu sejatinya tidak bisa sembarang dipelajari, dan hanya bisa dipahami bagi orang-orang yang terpilih saja di dunia ini.
Jika sudah menyentuh pada ranah metafisika, tentu seakan ada pagar pembatas dan tidak akan berlaku lagi jika adanya bantahan-bantahan untuk mencari kebenaran pengakuan tersebut meskipun adanya segudang alasan logis untuk menolak eksistensinya. Meski berbeda dengan bahasa Suryani pada lazimnya, tentu fenomena tersebut menjadi bahan dan objek yang menarik bila diteliti lebih lanjut berkenaan dengan struktur, pengucapan, artikulasi, kosakata, dan semantik, mengingat dia telah mengarang buku berbahasa Suryani berdasarkan klaimnya. Sehingga pada akhirnya pun menghasilkan kesimpulan yang logis dan bisa saja lebih memperkuat eksistensi daripada bahasa yang diklaim tersebut: apakah itu suatu bahasa baru, atau merupakan bahasa yang dulu pernah ada dan lenyap, atau bahasa modifikasi.
Referensi
Abdul Tawab, R. (1977). Fiqh al-Lughat as-Samiyah. Riyadh: Mathbu’at Jami’ah ar-Riyadh.
al-Qushi, M. A. as-S. (2016). ’Abqariyyah al-Lughah al-Arabiyyah. Rabath: ICESCO Rabath.
Wafie, A. A. W. (2004). Fiqh Lughah. Cairo: Nahdhah Misr.
Wolfson, I. (1929). Tarikh al-Lughat as-Samiyah. Mesir: Mathba’ al-I’timad.
Ya’qub al-Fairuz Abadi, M. M. (2005). al-Qamus al-Muhith. Beirut: Muassasah ar-Risalah.
Ya’qub, E. B. (1982). Fiqh al-Lughah al-Arabiyah wa Khashaisuha. Beirut: Dar al-Ilmi li al-Malayin.
Youtube/ponpesuniqnusantara

